Ada 9 macam Efek Samping Pada Pengobatan Herbal yang Berasal dari Tanaman

By

Ada 9 Macam Efek Samping Pada Pengobatan Herbal yang Berasal dari Tanaman Meskipun ada kepercayaan luas bahwa obat-obatan herbal lebih aman karena lebih alami, namun faktanya ini belum tentu benar. Obat-obatan nabati atau herbal bisa saja memabukkan, berbahaya, dan membuat kecanduan (sama seperti obat-obatan konvensional yang diproduksi di laboratorium).

Berbeda dengan obat konvensional, obat herbal biasanya tidak memiliki dasar ilmiah atau referensi standar yang bisa digunakan untuk acuan pasien dalam penggunaan obat. Bahkan sebagian formulanya juga tidak dianalisis, tidak seragam, dan belum dikontrol kualitasnya. Satu dosis yang Anda minum untuk hari ini bisa saja sangat berbeda dengan dosis berikutnya, dan ini cukup berbahaya.

Efek samping pada pengobatan herbal
Efek samping pada pengobatan herbal

Efek samping pada pengobatan herbal biasanya disebabkan oleh pengotor (alergen, serbuk sari, dan spora), atau karena perbedaan kandungan tiap dosis yang diberikan. Yang lebih buruk, Anda tidak mengetahui atau diperingatkan akan bahaya ini oleh produsen obat herbal. Intinya obat-obatan ini tidak diatur, tidak dikenai sanksi, dan tidak diawasi oleh lembaga manapun. Jadi sebelum menggunakan salah satunya, maka lebih baik ketahui dulu jenis interaksi atau efek samping yang mungkin terjadi.

Interaksi dan Efek Samping Pada Pengobatan Herbal

Chamomile

Chamomile sering digunakan dalam bentuk teh sebagai obat penenang. Namun teh ini juga bisa menyebabkan reaksi alergi, terutama pada orang yang memiliki alergi terhadap ragweed. Reaksi alergi yang banyak dilaporkan meliputi: kram perut, lidah terasa tebal, penyumbatan saluran pernapasan, sesak tenggorokan, pembengkakan bibir, dan gatal-gatal di seluruh tubuh. Untuk itu pengobatan ini tidak dianjurkan bagi pasien yang mengkonsumsi obat anti-koagulan (pencegah pembekuan darah).

Bawang Putih

Bawang putih bisa saja digunakan untuk menurunkan tekanan darah dan kolesterol. Namun efek samping pada pengobatan herbal ini juga tidak kalah banyak. Bau mulut adalah reaksi yang paling terkenal, namun bawang putih juga bisa menghasilkan reaksi alergi, peradangan kulit, dan gangguan lambung. Bawang putih juga dapat mengurangi pembekuan darah, jadi pemakaiannya harus hati-hati jika dikonsumsi bersama obat anti-koagulan.

Ginkgo Biloba

Ramuan ini sangat populer untuk mengatasi demensia (disfungsi otak progresif) dan untuk meningkatkan pemikiran. Namun interaksi dengan obat ini bisa menghasilkan sakit perut dan sakit kepala ringan. Ginkgo juga tampaknya memiliki sifat pengencer darah. Jadi Anda tidak dianjurkan untuk meminum obat ini bersama dengan obat anti-koagulan, aspirin, ibuprofen, naproxen, atau motrin. Lebih lanjut, ginkgo juga harus dihindari pada pasien dengan epilepsi yang menggunakan obat kejang, seperti fenitoin, carbamazepine, dan fenobarbital.

Ginseng

Ginseng banyak digunakan untuk meningkatkan energi dengan merangsang kelenjar adrenalin. Ini juga dapat mengurangi gula darah pada pasien diabetes mellitus. Sayangnya tidak banyak orang yang tahu bahwa efek samping pada pengobatan herbal ini juga bisa menaikkan tekanan darah, sakit kepala, muntah, insomnia, dan pendarahan pada hidung. Bahkan gingseng juga dapat mempengaruhi tes darah pada orang yang menggunakan obat untuk penyakit jantung.

Ginseng juga dapat menyebabkan tremor, gugup, dan sulit tidur. Jadi ini harus dihindari pada orang-orang yang mengalami kelainan psikosis. Sementara itu, tidak jelas apakah ginseng dapat mempengaruhi hormon wanita. Namun penggunaannya dalam kehamilan tidak dianjurkan. Ginseng juga dapat mempengaruhi elemen pembekuan darah normal (trombosit). Jadi ini harus dihindari pada pasien yang menggunakan aspirin, ibuprofen, naproxen, motrin, dan obat-obatan anti-koagulan.

Echinacea

Suplemen echinacea banyak dipuji karena bisa meningkatkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi. Namun interaksi dengan ekstrak bunga ini bisa menghasilkan rasa atau efek samping pada pengobatan herbal yang tidak menyenangkan. Echinacea dapat menyebabkan keracunan hati. Jadi ini harus dihindari dalam kombinasi bersama obat lain yang dapat mempengaruhi hati, seperti: ketoconazole, leflunomide, metotreksat, dan isoniazid.

John’s Wort

St. john’s wort banyak digunakan sebagai pengobatan herbal untuk depresi, kegelisahan, dan gangguan tidur. Tanaman yang dikenal sebagai Hypericum perforatum ini banyak ditemui dalam bentuk minyak essensial atau suplemen makanan. Sayangnya rasio untuk masing-masing produk ini cenderung berbeda, meskipun khasiatnya sama.

Efek samping pada pengobatan herbal ini bisa menyebabkan sensitivitas terhadap sinar matahari, yang menyebabkan kulit terbakar (terutama pada orang kulit putih). Selain itu, st. john’s wort juga dapat menyebabkan perubahan saraf di area kulit yang terbakar. Jadi ini tidak dianjurkan dikonsumsi bersama obat lain yang dapat mempengaruhi sensitivitas matahari seperti tetrasiklin atau piroxicam. Tanaman ini juga dapat menyebabkan sakit kepala, pusing, berkeringat, dan gelisah ketika digunakan bersama obat-obatan anti-depresan SSRI seperti fluoxetine dan paroxetine.

Feverfew

Tanacetum parthenium (feverfew) adalah jenis tanaman yang paling sering digunakan untuk mengobati sakit kepala migrain. Namun interaksi dengan tanaman herbal ini bisa menyebabkan reaksi alergi, terutama pada orang yang alergi chamomile, gulma, dan yarrow. Untuk mengurangi efek ini, maka Anda bisa menggunakan jenis obat-obatan anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen, naproxen, dan motrin.

Selain alergi, tanaman ini juga menghasilkan suatu kondisi atau efek samping pada pengobatan herbal seperti “post-feverfew syndrome“. Penyakit ini biasanya menunjukkan gejala-gejala termasuk sakit kepala, gugup, susah tidur, kaku, nyeri sendi, dan lelah. Selain itu, feverfew juga dapat merusak aksi trombosit sehingga harus dihindari pada pasien yang mengkonsumsi obat anti-koagulan.

Jahe

Jahe telah banyak digunakan sebagai pengobatan untuk mual dan kejang usus. Namun interaksi dengan tanaman herbal ini juga dapat menyebabkan pengenceran darah. Jadi ekstrak tanaman ini tidak dianjurkan untuk diminum bersama dengan obat anti-koagulan (obat yang mencegah pembekuan darah). Selain itu, mengkonsumsi terlalu banyak jahe juga tidak baik bagi kehamilan, karena bisa menyebabkan keguguran.

Saw Palmetto

Saw palmetto (Serenoa repens) biasanya banyak ditemui pada suplemen yang digunakan untuk mengatasi pembesaran kelenjar prostat. Kandungan tanaman ini disebut-sebut sebagai obat diuretik yang bisa digunakan untuk mencegah infeksi kandung kemih. Namun tidak ada bukti ilmiah yang cukup untuk mendukung manfaat saw palmetto ini. Jadi Anda harus berhati-hati dengan efek samping pada pengobatan herbal saw palmetto.

Bisa juga simak artikel yang menarik lainnya disini.

Sementara itu, beberapa laporan menyebutkan interaksi obat saw palmetto bisa menyebabkan sakit perut. Bahkan ramuan ini juga dapat menurunkan kinerja hormon seks testosteron, sehingga mengurangi dorongan atau kinerja seksual. Jadi, selama tidak ada dokumentasi yang menjelaskan akan manfaat saw pametto, maka akan lebih bijaksana jika Anda menghindari penggunaan bersama obat ini dengan terapi hormon seperti estrogen atau kontrasepsi oral.

Daftar ini hanya mewakili sebagian kecil dari efek samping pada pengobatan herbal. Meskipun demikian, popularitas obat herbal tidak perlu dipertanyakan lagi. Anda mungkin cocok dengan ramuan atau obat herbal tertentu. Namun tidak ada data yang bisa mendukung dan memutuskan apakah obat herbal ini bermanfaat untuk sementara waktu atau berbahaya dalam jangka panjang. Jadi untuk mengatasinya maka jangan dikonsumsi secara berlebihan.

Tinggalkan komentar