7 Penyakit Akibat Kekurangan Gizi di Indonesia, Simak Yuk!

sumbersehat.com – Gizi adalah unsur terpenting dalam kebutuhan manusia untuk menunjang berbagai aktivitas, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Banyak ahli gizi  yang menyarankan konsumsi makanan dengan tepat terutama untuk balita yang berada pada masa pertumbuhan. Untuk itu kita mengenal istilah pemenuhan gizi seimbang dengan menu empat sehat lima sempurna. Di Indonesia meski gencar kampanye pentingnya gizi, namun penyakit akibat kekurangan gizi masih berada pada grafik tinggi.

Bahkan di tengah pandemi seperti sekarang, permasalahan penyakit akibat kekurangan  gizi di Indonesia terus meningkat. UNICEF sebagai badan anak yang dibentuk PBB mengatakan sebelum pandemi saja jumlah penderita gizi buruk di Indonesia mencapai 2 juta anak. Sementara kondisi ekonomi yang melemah akibat covid-19 memperparah kondisi tersebut, UNICEF memprediksi jumlah anak kekurangan gizi secara global bisa meningkat hingga 15 % akibat pandemi.

penyakit akibat kekurangan gizi

Inilah Berbagai Penyakit Akibat Kekurangan Gizi di Indonesia

Periode emas anak-anak yang berusia dari 0 – 5 tahun memang sangat perlu dimanfaatkan dengan pembimbingan yang baik dari orang tua. Bukah hanya itu memenuhi kebutuhannya terutama bagi asupan si kecil adalah masalah penting agar anak kita tidak kekurangan gizi. Ada berbagai penyakit yang berhubungan dengan gizi masih melanda Indonesia diantaranya adalah :

Marasmus

Marasmus merupakan penyakit akibat kekurangan gizi  yang terjadi akibat kekurangan asupan energi yang berasal dari lemak, karbohidrat dan protein. Penyakit marasmus lebih kompleks karena asupan kalori dari sumber-sumber energi tidak terpenuhi yang menyebabkan penderita mengalami berbagai gejala.

Pertumbuhan penderita marasmus sering terhambat yang membuatnya tidak bisa tumbuh besar seperti orang pada umumnya. Selain itu gejala yang sering terlihat pada penderita marasmus adalah rasa lesu yang berkepanjangan dan turunnya berat badan. Baca juga 5 Akibat Kurang Makan dan Minum, Perhatikan!

Dari penelitian studi tentang gizi buruk terutama masalah kwashiorkor dan marasmus. Beberapa variable yang ikut disebabkan  faktor pendapatan keluarga. Selain itu faktor frekuensi sakit pada anak, faktor pendidikan ibu, frekuensi dari penimbangan anak di posyandu dan sumber air minum yang memadai juga ikut mendorong meningkatnya kasus gizi buruk.

Kwashiorkor 

Jika marasmus adalah penyakit akibat kekurangan gizi yang lebih umum dan kompleks, kwashiorkor lebih spesifik. Penderita penyakit ini disebabkan oleh kekurangan protein dalam tubuh sehingga mengakibatkan malnutrisi. Dari dampak yang ditimbulkan kwashiorkor sangat parah dimana penderita penyakit ini akan mengalami gejala luar biasa.

Gejala yang ditimbulkan dari penyakit kwashiorkor diantaranya adalah edema yaitu pembengkakan yang sering terjadi di bagian bawah kulit terutama pada bagian kaki penderita. Gejala lain yang ikut menyertai seperti diare, dermatitis, gangguan tumbuh kembang pada penderita hingga rambut yang mulai menipis dan kasar.

Gondok

Mungkin banyak dari Anda yang sudah mengetahui penyakit akibat  kekurangan gizi satu ini. Ya ! Gondok adalah penyakit yang menyebabkan kelenjar tiroid mengalami pembengkakan. Gejala yang ditimbulkan dari penyakit ini biasanya adalah sensitif terhadap suhu dingin, mudah lesu, metabolism yang lemah hingga munculnya pembengkakan pada kelenjar tiroid. Penyebab penyakit gondok adalah kurangnya konsumsi yodium yang biasa ditemukan pada garam.

Untuk penyembuhan atau mencegah gejala ini, bagi gejala ringan di anjurkan makan-makanan dengan kandungan yodium. Sedangkan untuk gejala dengan pembengkakan kelenjar tiroid lebih besar dianjurkan untuk berkonsultasi pada dokter yang sudah ahli pada bidangnya. Di Indonesia sendiri penderita penyakit gondok sangat sering ditemukan, umumnya penderita yang mengalami penyakit ini adalah kaum wanita ketimbang pria.

Anemia

Dampak kekurangan gizi bagi remaja yang sering diacuhkan adalah anemia. Anemia adalah penyakit yang disebabkan oleh kurangnya protein dalam hemoglobin sehingga menimbulkan berbagai gejala seperti lesu, sulit dalam berkonsentrasi dan gejala sakit kepala. 

Para remaja di usia sekolah sering mengalami anemia, terkhususnya adalah remaja putri yang baru mengalami menstruasi. Hal tersebut yang sering menjadi penyebab kurang konsentrasi saat belajar di sekolah. Untuk mengatasi hal ini pihak puskesmas sering memberi tablet tambah darah ( TTD ) kepada remaja putri.      

Angka penderita anemia merupakan penyakit akibat kekurangan gizi di Indonesia yang cukup besar penderitanya. Diketahui sekitar 23 % remaja putri di Indonesia menderita kekurangan darah atau anemia. Umur yang rentan terkena anemia mulai dari 10-19 tahun, untuk itu dibutuhkan pemerintah untuk gencar mengedukasi siswa-siswi usia sekolah tersebut.

Beri-Beri

Penyakit akibat  kekurangan gizi  yang satu ini disebabkan oleh tubuh yang mengalami kekurangan vitamin B1. Akibatnya penderita mengalami gejala mulai dari sesak napas, kaki bagian bawah membengkak, denyut jantung meningkat untuk beri-beri basah. Pada beri-beri kering gejala yang ditimbulkan adalah kesemutan serta nyeri otot yang disebabkan oleh gangguan pada saraf.

Selain menyerang sistem saraf atau otot beri-beri sering mengganggu sistem pencernaan pada penderita. Di Indonesia sendiri penyakit beri-beri sempat mewabah namun saat Indonesia masih di bawah kekuasaan belanda atau dengan nama Hindia Belanda. Dr. Christiaan Eijkman lah yang berhasil menemukan konsep vitamin atas penyakit ini. Hingga ia diberi penghargaan nobel fisiologi atau kedokteran pada tahun 1929.

Hiponatremia

Hiponatremia adalah salah satu penyakit akibat kekurangan gizi  yang disebabkan oleh berkurangnya natrium atau sodium dalam darah. Penyakit ini cukup serius karena natrium sendiri dalam tubuh manusia memiliki multifungsi mulai dari menjaga tekanan darah, mengatur sistem saraf, mengatur tekanan air.

Orang-orang yang menderita Hiponatremia biasanya memiliki gejala mulai dari kepala yang sering sakit, kelelahan, mual hingga muntah. Penyebab Hiponatremia beragam mulai dari komplikasi akibat penyakit diare atau muntah yang berlebihan, perubahan hormone dan lain sebagainya.

Stunting

Penyakit akibat  kekurangan gizi  satu ini memiliki jumlah penderita yang sangat banyak di Indonesia. UNIEF mencatat sebelum pandemic setidaknya ada 7 juta anak Indonesia yang menderita stunting. Apa itu stunting? Stunting sendiri adalah dampak kekurangan gizi yang menyebabkan pertumbuhan pada anak menjadi gagal. Umumnya stunting mengakibatkan anak lambat berkembang sehingga daya pikirnya juga mengalami keterlambatan dari anak-anak seusianya.

Angka penyakit akibat kekurangan  gizi terutama stunting di Indonesia sangat parah. Pada tahun 2017 jumlah anak yang menderita stunting sangat tinggi yaitu 29,6 %. Tingginya angka penderita stunting, membuat Indonesia berada di posisi empat sebagai negara dengan pengidap stunting terbanyak di Indonesia. Fakta tersebut tentu sangat memprihatinkan.

Berbagai cara perlu di perhatikan, salah satu hal yang harus dilakukan orang tua untuk mengantisipasi stunting adalah mengikuti program imunisasi dasar. Selain itu orang tua dianjurkan  memberi ASI eksklusif sampai 6 bulan, memeriksa kehamilan anak, menjauhi asap rokok, makan-makanan yang sehat dan olahraga.

Dampak kekurangan gizi bagi manusia ternyata sangat besar, hal ini bisa menyebabkan berbagai penyakit hingga yang paling parah adalah kematian. Dengan adanya ulasan mengenai akibat gizi buruk ini setidaknya kita mulai paham untuk memberikan asupan yang sehat bagi anak-anak kita. 

Sejatinya masalah penyakit akibat kekurangan gizi di Indonesia sangat serius, jika ini tidak bisa teratasi yang dipertaruhkan adalah generasi kedepan. Untuk menciptakan generasi yang cerdas dan siap membawa perubahan bagi Indonesia di butuhkan fisik dan jiwa yang sehat. Hal inilah yang membuat masing-masing kita bertanggung jawab atas diri sendiri dan orang lain dalam rangka pemenuhan gizi.

About Vita

Seorang introvert yang suka menulis

Check Also

cara mengatasi sakit kepala sebelah

8 Cara Mengatasi Sakit Kepala Sebelah Tanpa Obat, Coba Yuk!

sumbersehat.com – Cara mengatasi sakit kepala sebelah tanpa obat, sangat penting untuk diketahui. Pasalnya, penggunaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *