Kebiasaan Remeh Yang Dapat Menyebabkan Diabetes Melitus

Ibu dari banyak penyakit, merupakan julukan yang disematkan pada penyakit diabetes melitus. Karena banyak penyakit degeneratif yang disebabkan olehnya, sehingga tidak heran jika penyakit satu ini masuk dalam kategori penyakit yang harus diwaspadai. Sebab, keberadaannya hampir tanpa gejala berarti dan tahu-tahu sudah menyerang sistem organ. Mengerikan sekali bukan? Nah, sayangnya masih banyak yang tidak sadar jika banyak kebiasaan remeh yang dapat menyebabkan dibates melitus ini. Penasaran seperti apa ulasannya? Yuk simak dalam penjelasan berikut ini.

Hal yang harus diperhatikan agar terhindar dari diabetes melitus

1. Merasa Cukup Hanya Dengan Kegiatan Domestik

Biasanya ini banyak dialami oleh ibu-ibu. Karena padatnya aktifitas domestik, sehingga lupa dan jarang memiliki waktu untuk melakukan work out. Padahal, work out salah satu elemen penting untuk menjaga tubuh terus berada dalam kondisi prima. Sehingga, dengan kegiatan domestik yang padat, kekacauan hormonal akibat kelelahan, stress dan bosan, membuat tubuh turut tidak seimbang. Jadi, jangan lupa untuk menyempatkan work out meski cuman 10 menit setiap harinya. Pilih jenis work out yang padat namun sederhana. Misalnya, plank atau jumping hand.

diabetes melitus
diabetes melitus

2. Komposisi Asupan Makanan Memiliki Karbohidrat Yang Tinggi

Coba perhatikan menu yang ada di piring. Misalnya saja, nasi uduk dengan lauk bihun goreng, sambel goreng kentang, orek tempe, perkedel, bala-bala, ayam goreng tepung dan kerupuk. Dari sekian banyak komponen, mari turunkan bahan termasuk dalam jenis karibohidrat, protein atau lemak. Nasi sudah jelas itu masuk kelompok karbohidrat. Perkedel, kentang, bala-bala, tepung di ayam goreng dan kerupuk, semua itu juga karbohidrat. Protein hanya ada di tempe yang juga masih ada kandungan karbohidratnya dan ayam. Sudah kebayang bagaimana komposisi makanan tersebut sehingga dapat dikatakan turut menambah risiko terkena diabetes melitus.

Karena makanan merupakan pencetus utama selain faktor keturunan genetik. Oleh karena itu, perhatikan betul jumlah asupan karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh. Sebab, karbohidrat yang masuk akan dicerna menjadi susunan karbohidrat sederhana yaitu glukosa. Nah, indeks glukosa yang tinggi di dalam darah, jika tidak ditangani sejak dini, dapat menjadi pemicu diabetes melitus. Terlihat remeh sekali bukan? Hanya dari faktor kebiasaan makanan sehari-hari. Uniknya, masih banyak yang beranggapan kalau diabetes itu ada karena suka makanan manis-manis. Padahal, tidak selamanya yang tidak manis itu tidak mengandung glukosa.

3. Ngopi dan Mencoba Aneka Minuman Kekinian

Sebagaimana yang diketahui oleh banyak orang, minuman kekinian seperti aneka boba dan dalgona coffee memang menjadi sebuah challenge tersendiri untuk mencoba dan mencicip rasanya yang unik. Belum lagi, kehadiran aneka kopi dengan racikan brown sugar, creamer dan lainnya, turut menghadirkan varian rasa-rasa lezat yang membuat lidah ketagihan untuk terus menyeruputnya hingga tandas. Tetapi, tanpa disadari oleh banyak orang, hits seperti itu ternyata turut menyumbang angka potensi terkena diabetes melitus. Nah loh, bingung? Koq bisa? Baiklah, mungkin bisa dipahami dari jenis minuman yang dikosumsi.

Pertama, analisis komposisi minuman tersebut. Apakah menggunakan gula? Ingat, semua gula baik gula pasir, gula batu, gula merah dan lainnya, tetap saja itu karbohidrat. Kedua, campuran minuman. Selain gula, biasanya ada creamer, sirup, aneka isian dan lainnya. Coba cek nutrition fact setiap campuran, berapa besar jumlah karbohidratnya. Misalnya saja minuman boba. Ada banyak boba yang terbuat dari tepung. Sedangkan tepung sendiri merupakan salah satu jenis karbohidrat tinggi.

Buah-buahan meski disebut sebagai makanan yang sehat, namun jika dicampur dengan komposisi lain yang tinggi karbohidrat, imbasnya juga bisa buruk. Karena di dalam buah juga terkandung karbohidrat yang tinggi, kecuali beberapa buah yang memang punya kandungan karbohidrat sedikit. Seperti, aneka buah berry dan alpukat. Perlu diketahui, rasa manis yang ada pada buah sebenernya disumbang oleh fruktosa, salah satu jenis turunan karbohidrat. Jadi, untuk yang sudah punya potensi menderita diabetes melitus harap berhati-hati ketika memilih jenis buah yang hendak dikosumsi.

4. Tidur Terlalu Malam atau Bergadang

Sudah sangat sering berbagai media mengulas bahaya dari pola tidur lambat atau begadang. Tidak hanya secara emosional, namun juga secara fisik turut menyumbang sebagai salah satu penyebab banyaknya penyakit degeneratif. Misalnya saja penyakit diabetes. Kenapa bisa? Karena dengan tidur lambat atau begadang membuat tubuh harus mengeluarkan energi ekstra untuk bisa tetap beraktifitas. Seperti untuk berpikir, bernapas dan lainnya. semua itu butuh energi. Padahal, jam malam adalah kondisi biologis ketika tubuh minta diistirahatkan agar bisa meregenerasi sel-sel yang sudah mati atau rusak.

Hubungannya dengan penyakit diabetes melitus ada lantaran tubuh dalam kondisi terjaga, maka sel-sel yang rusak tadi tidak mendapat jatah energi secara optimal. Akibatnya, otak merespon dengan mengintruksikan untuk terus memecah gula untuk menghasilkan energi. Dampak buruknya, tanpa disadari dapat memicu stress. Bukankah sering mengalami hal seperti itu? Ketika kerja larut malam, lebih rawan salah dan cepat bosan serta letih. Dari kondisi tersebut, memicu hormon kortisol atau hormon stres.

Dengan adanya kortisol, maka kinerja organ paru-paru dan jantung juga meningkat lebih cepat. Akibatnya, tubuh terus memproduksi gula untuk dipecah jadi energi dan itu menjadikan indeks gula dalam darah semakin bertambah. Karena gula semakin meningkat, maka insulin pun kembali diproses untuk mengimbanginya. Jika dibiarkan terus menerus, maka resistensi insulin pun akan terjadi. Mengerikan sekali bukan? Bayangkan saja tubuh sudah menjadi resisten insulin. Siap-siap saja, injeksi insulin dari luar dan itu sama sekali tidak menyenangkan ketika kondisi ini menyerang.

5. Suasana Pertemanan atau Pergaulan

Siapa sangka jika kondisi pertemanan atau pergaulan juga turut menyumbang sebagai penyebab tingginya risiko penyakit diabetes melitus. Secara mudahnya, kondisi pertemanan yang tidak bagus memaksa diri sendiri untuk menerima semua ketidaknyamanan yang ada. Bisa jadi, perbedaan karakter, perbedaan cara pandang, perbedaan latar belakang dan beberapa hal lain yang mendorong diri untuk terus-menerus beradaptasi dan menerima semua ketidakanyamanan tersebut.

Dari sisi sosial memang bagus untuk terus mencoba beradaptasi dengan lingkungan, namun jangan lupa bahwa tubuh bukanlah robot yang bisa dengan mudah di-setting. Ada kalanya pikiran dan perasaan butuh zona nyaman, melepas semua topeng untuk diterima apa adanya. Sehingga, jika di kondisi pertemanan dan lingkungan yang tidak nyaman, sangat rentan memicu stress. Jika sudah stress, maka siap-siap saja kortisol melonjak naik. Imbasnya, tentu saja indeks glukosa juga naik, diiringi produksi insulin dalam jumlah besar. Ending-nya, tentu saja risiko diabetes mengintai.

Demikian beberapa hal remeh yang sering terjadi dan dilakukan oleh banyak orang, namun tidak disadari jika itu menjadi baberapa hal yang dapat memicu tingginya risiko terkena diabetes melitus.  Jadi hidup memang butuh kesadaran penuh untuk mendengar apa yang tubuh butuhkan. Gejala-gejala kecil sering diabaikan, padahal itu salah satu alarm yang tubuh berikan jika di dalam sana sedang tidak baik-baik saja. Mari tetap jaga kesehatan dan jangan lupa untuk terus bahagia. Salam sehat.

About Aziza Linda Verra

Check Also

penyebab kulit kering dan gatal

11 Penyebab Kulit Kering dan Gatal Paling Jarang Orang Sadari

Kulit kering dan gatal kerap kali orang alami bahkan hampir pernah dialami oleh semua orang,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *