Beberapa Upaya Memberdayakan Kesehatan Jiwa

Beberapa upaya memberdayakan kesehatan jiwa ini akan membuat kita sadar bahwa persoalan mengenai kesehatan jiwa bukan perkara yang bisa diremehkan. WHO Global Healt Estimates tahun 2015 menyebutkan bahwa kematian tertinggi kedua di dunia akibat bunuh diri adalah pada kisaran usia 15 hingga 29 tahun. Meski tidak semua tindakan bunuh diri tersebut disebabkan karena gangguan kejiwaan, tapi 80-90% remaja yang meninggal karena bunuh diri mempunyai riwayat psikopatologi seperti gangguan mood, gangguan cemas, hingga masalah perilaku. Karenanya, masih bisa kah ini dianggap hal sepele?

Memang tidak dapat dipungkiri jika selama ini kita masih lebih banyak fokus untuk mencari tahu bagaimana cara supaya kebugaran tubuh tetap terjaga seperti pola makan teratur, cukup tidur, dan cukup olahraga supaya tubuh tetap prima. Padahal, seperti kesehatan tubuh, kesehatan mental sangat perlu untuk kita perhatikan. Hal ini dikarenakan pemeliharaan kesehatan jiwa sama pentingnya dengan pemeliharaan kesehatan mental.

kesehatan jiwa
kesehatan jiwa

Merriam Webster, seorang pakar kesehatan menyebutkan bahwa kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi emosional dan psikologis tertentu yang mana seorang individu telah mampu mengambil manfaat dari kognisi dan emosinya, mampu berperan dalam komunitas dan mempu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sehingga dapat dikatakan bahwa inti dari kesehatan mental adalah pada keberadaan dan pemeliharaan mental yang sehat. Sehingga, pemahaman mengenai cara memberdayakan kesehatan mental perlu diketahui. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk keluarga, komunitas, dan masyarakat di sekitar Anda.

Jika jiwa kita sehat, maka ciri jiwa yang positif akan tercermin pada diri kita. Diri yang mampu menerima keadaan dirinya sendiri. Diri yang mampu menghadapi situasi, risiko, tanggung jawab dan kekecewaan dalam hidup. Diri yang telah mampu memenuhi tuntutan hidup. Diri yang bijaksana dalam mengambil keputusan. Hingga diri yang mampu menilai dirinya sendiri secara realistis. Sudahkan ciri jiwa yang sehat tercermin pada pribadi kita?

Upaya memberdayakan kesehatan jiwa

Untuk sampai pada kemampuan tersebut, diperlukan upaya memberdayakan kesehatan jiwa mulai dari hal-hal sederhana yang dapat dilakukan dengan aktivitas sehari-hari. Meski tampak sederhana, hal tersebut bukan hal yang mudah dilakukan, apalagi dibiasakan. Akan tetapi jika tidak pernah dicoba, maka kita akan tetap di keadaan yang sama. Sebab perubahan dimulai dari diri sendiri, siapa lagi yang bisa menggerakkan perubahan jika bukan diri sendiri? Berikut adalah 5 upaya yang dapat dilakukan untuk memberdayakan kesehatan jiwa.

Memelihara kesehatan tubuh

Adanya ungkapan di balik tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat adakalanya memang benar. Untuk menjaga kesehatan jiwa, dilakukan dengan menjaga kesehatan tubuh terlebih dahulu. Hal ini dapat dilakukan dengan mengatur pola makan, pemenuhan kebutuhan gizi, serta menyisihkan cukup waktu untuk tidur dan olah raga. Dengan dilakukannya langkah-langkah tersebut, niscaya kita telah mengusahakan supaya tubuh tetap dalam kondisi bugar. Menjaga kesehatan tubuh dengan baik, maka kita telah menunaikan salah satu upaya dalam pemeliharaan kesehatan jiwa.

Berpikir positif

Hal yang perlu kita biasakan adalah berpikir dan bertindak positif. Dengan malakukan keduanya, maka kita telah memimalisir kemungkinan kita untuk berbuat buruk terhadap orang lain. Dengan berpikir secara positif pula, kita dapat memandang hidup dengan optimis. Kesukaran-kesukaran yang barangkali akan kita temui di kemudian hari tidak akan menyebabkan stress hingga berpotensi mengganggu kesehatan jiwa kita. Sebaliknya, kita telah mempunyai ancangan dan motivasi akan dapat mengatasi risiko tersebut.

Bertindak positif adalah langkah yang diambil setelah berpikir positif. Hal ini akan tampak ketika ketika berada pada posisi di mana kita memerlukan suatu perubahan. Misal, ketika si “A” merasa tidak mampu menyelesaikan tugas yang diberikan atasannya, setelah melalui proses perenungan, si A tergerak untuk memantabkan diri mampu menyelesaikan tugas tersebut. Proses berbenah tersebutlah adalah salah satu bentuk tindakan positif.

Meminimalisir munculnya stressor

Stressor adalah faktor-faktor dari luar yang mengakibatkan munculnya stres. Ia dapat berasal dari berbagai sumber kompleks yang dapat berpengaruh pada kesehatan jiwa seperti suara bising, keramaian, kesulitan pekerjaan, rasa takut, kesepian, hingga hubungan dengan sosial. Jika tidak dapat mengendalikan stres maka ia yang justru akan mengendalikan kita. Kita akan menjadi pribadi yang tempramen, sukar tidur, dan hingga memunculkan penyakit-penyakit fisik seperti sakit kepala, tekanan darah tinggi, dan lain sebagainya. Oleh karenanya, kita perlu mengusahakan untuk meminimalisis munculnya stres, di antara hal-hal sederhana yang tapat kita upayakan adalah dengan tetap tenang, menahan emosi buruk, dan banyak bersyukur.

Membina hubungan baik dengan orang sekitar

Sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa terlepas dari hubungan dengan orang lain, baik kekerabatan sebagai antarsaudara, antartetangga, siswa-murid, dan lain sebagainya. Tidak dapat dipungkiri pula, kita tidak bisa lepas dari ketergantungan kita terhadap mereka. Sebab apa-apa yang tidak bisa kita lakukan sendiri, akan dapat diselesaikan dengan bantuan dari mereka. Hubungan yang baik dan harmonis antara diri kita dengan orang-orang di lingkungan kita akan membuat kita berada dalam kondisi sosial yang positif..

Akan tetapi tidak jarang konflik yang terjadi pada hubungan tersebut akan menjadi penyebab stres dan menjadi faktor yang mempengaruhi kesehatan jiwa. Karenanya, kita pun perlu memelihara keakraban dengan orang sekitar agar timbal balik yang kita terima pun sepadan. Sebab bukankah apa yang kita berikan, seperti itu pula yang akan kita terima? Upaya tersebut dapat dilakukan dengan hal-hal kecil seperti saling menyapa, saling berbagi makanan dan saling menolong. Reaksi positif yang diberikan orang lain akan membuat kita merasa baik. Pun sebaliknya.

Berdamai dengan diri sendiri

Jika kita telah mampu mengendalikan stres dan membina hubungan baik dengan orang lain, yang perlu dilakukan berikutnya adalah dengan melakukan penerimaan diri sendiri sebagaimana adanya. Kita tidak perlu membandingkan kemampuan diri sendiri dengan kemampuan orang lain. Sebab setiap kita lahir dengan bakat dan kepribadian yang unik. Tugas kita hanyalah mengembangkannya sehingga kita menjadi pribadi yang unggul dan tidak perlu merasa minder dengan keunggulan yang dimiliki orang lain.

Pun meski begitu, memandang diri sendiri secara rendah juga bukan hal yang baik. Sebab dengan demikian akan membuat kita merasa memiliki kemampuan di bawah orang-orang lain. Akan tetapi, sebaliknya, melihat diri secara berlebihan pun juga tidak baik karena akan menjadikan diri kita sebagai pribadi yang angkuh. Salah satu indikator telah mencapai titik optimal kesehatan jiwa adalah ketika kita telah mampu menilai diri secara realistis: tidak berlebihan dan tidak pula merendahkan.

Demikian adalah upaya-upaya yang dapat kita lakukan untuk memberdayakan kesehatan jiwa. Jika kita telah mampu menyeimbangkan baik kesehatan tubuh dan kesehatan jiwa niscaya kita akan mempu mengatasi berbagai kesulitan hidup. Sebab sehat jiwa erat kaitannya dengan cara berpikir, berperan, dan cara kita bertindak baik terhadap diri sendiri, orang lain hingga lingkungan sekitar.

About Aziza Linda Verra

Check Also

cara menjaga kesehatan tenggorokan

Simak, 10 Cara Menjaga Kesehatan Tenggorokan Agar Corona Menghindar!

sumbersehat.com – Cara menjaga kesehatan tenggorokan menjadi ramai diperbincangkan terlebih saat pandemi menyerang. Masyarakat kembali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *