6 Gaya Hidup Sehat Remaja yang Banyak Dilakukan

6 Gaya Hidup Sehat Remaja yang Banyak Dilakukan. Gaya hidup remaja tidak boleh berlebihan secara harta atau tidak memamerkan apa yang dimiliki orang tua kepada teman – temannya. Jaman remaja diisi dengan intelektual diri dan bukan dengan cinta monyet. Tertarik pada lawan jenis sangatlah wajar tapi belajar merupakan hal yang paling penting. Orang tua bekerja keras untuk membiayai sekolah putra putrinya dengan tujuan menjadi orang berguna bagi masyarakat.

Membuka diri untuk pergaulan tidaklah salah tapi terjebak dalam pergaulan tidak dibenarkan. Masa depan remaja masih panjang, jadi apabila mengalami putus cinta pun tidak perlu dipikirkan berlarut larut. Selama orang tua masih mampu untuk membiayai sekolah, lanjutkan sekolah setinggi mungkin. Kalau pun orang tua tidak mampu, tetaplah sekolah dengan mengandalkan beasiswa atau jalur prestasi lainnya.

gaya hidup sehat remaja
gaya hidup sehat remaja

JenisJenis Pembelajaran terhadap Kinerja Intelektual Para Remaja

Para remaja merupakan calon pemimpin bangsa dimana harapan dan tanggung jawab akan dibebankan kepadanya apabila kondisinya sudah siap. Sebelum itu terjadi, penerapan gaya hidup sehat remaja menjadi langkah perdana yang harus diselesaikan. Semua ada proses dan prosedur bertahap yang harus dijalani. Pengaruh pergaulan yang penuh dinamika silih berganti mewarnai kehidupan para remaja.

Proses awal dengan didikan dan gemblengan terhadap para remaja merupakan prosedur persiapan yang bersifat pembelajaran. Tujuannya memperbanyak pengetahuan, pengalaman, pandangan, dan intelektual. Para remaja harus memiliki sikap yang konsisten, tidak terpengaruh perilaku negatif, dan menghormati orang tua. Remaja harus cermat berpikir kritis dan cerdas sebelum bertindak.

Proses Belajar Mengamati dan Diamati

Dinamika pergaulan para remaja yang silih berganti bukan hanya sekedar interaksi saja melainkan proses mengamati perilaku atau perbuatan remaja lain dan sebaliknya perilaku / proses perbuatan remaja lain diamati remaja lain lagi. Interaksi mengamati dan diamati merupakan pembelajaran yang sehat dalam aspek gaya hidup sehat remaja. Di sanalah letak posisi mengambil hikmat yang bagus dan membuang hikmah yang tidak bagus.

Proses ini menjadi penegasan bahwa bentuk pergaulan memiliki ciri khas tersendiri yang bisa dianalisis dan ditanyakan kepada pihak orang tua atau guru terkait. Belajar dari pengalaman remaja lain atau rekan yang berbuat kesalahan supaya tidak diulangi dan menjadi percontohan buat teman yang lain. Senada dengan aspek pergaulan positif yang perlu ditiru dan ditingkatkan. Belajar dan diamati merupakan langkah awal pergaulan sehat dan cerdas.

Proses Belajar Mengantri pada Lembaga Tertentu

Proses mengantri jauh lebih penting daripada belajar matematika atau pelajaran berhitung. Belajar mengantri terdapat banyak pengetahuan yang dapat dipetik, misalnya belajar menghormati orang yang lebih tua, belajar jujur, belajar sabar, belajar menunggu sesuatu hal, belajar tidak curang, dan masih banyak hal yang dapat dikaji. Aspek gaya hidup sehat remaja tentang mengantri harus dikedepankan dan diutamakan.

Belajar proses mengantri merupakan langkah awal pendidikan karakter. Belajar menghitung atau sains mengarah kepada perspektif yang terbatas, tapi belajar mengantri mengarah kepada perspektif yang tidak terbatas. Tidak semua para remaja pada masa mendatang menjadi ilmuwan, dokter, insinyur, guru, dan sebagainya tapi tahukah bahwa tahapan mengantri bisa membuat individu remaja meraih yang lengkap dari pada hanya meraih cita – cita saja.

Proses Belajar Empati dan Simpati

Para remaja harus menyikapi dan menyadari bahwa perilaku antipati sebaiknya dihindari dan dicegah karena tidak sesuai dengan budaya gaya hidup sehat remaja yang mengutamakan kebersamaan. Budaya antipati bersifat egois, memaksakan kehendak, dan tidak perduli dengan sesama manusia. Peran orang tua dan guru yang harus mengedepankan budaya empati dan simpati ke dalam pembangunan karakter para remaja.

Empati dan Simpati harus diajarkan kepada para remaja sejak usia dini sampai dewasa karena putra putri sebagai generasi penerus bangsa bukanlah manusia robot yang tidak mengenal perasaan. Dengan belajar Empati dan Simpati, para remaja diharapkan tidak menjadi egois dan tidak semaunya memaksakan kehendak kepada temannya. Perspektif Gaya Hidup Sehat Remaja tentang Proses Belajar Empati dan Simpati berjalan bersama 2 poin sebelumnya.

Pembentukan karakter terhadap Para Remaja

Pembangunan karakter pada remaja putra-putri dimulai sejak lahir, anak, remaja, dan dewasa sebelum menikah. Orang tua jualah yang mengajarkannya sebagai pelajaran perdana, yakni karakter. Karakter sederhana yang diajarkan sejak dari rumah seperti sopan santun, menghormati orang tua, mendengarkan suara orang tua, dan lain – lain. Pembentukan karakter terhadap para remaja kiranya menjadi budaya gaya hidup sehat remaja.

Seiring dengan waktu secara sadar atau tidak sadar, para orang tua mengenalkan anak yang kelak menjadi remaja dengan berbagai pembangunan karakter lainnya, yakni : (1) Pembangunan karakter dengan Tuhan ; (2) Pembangunan karakter dengan Orang Tua ; (3) Pembangunan karakter dengan Masyarakat, dan (4) Pembangunan karakter dengan Organisasi.  Ke – 4 inilah yang menjadi bekal moral dan moril kehidupan para remaja itu.

Pembangunan Karakter dengan Tuhan

Para remaja harus beribadah, taat, dan takut kepada Tuhan YME. Dengan berdoa dan mengandalkanNYA, maka gaya hidup berlebih para remaja bisa ditekan dan kesederhanaan bisa ditumbuhkan. Dengan mengingat namaNYA, segala sesuatu bisa dipikirkan melalui hikmat dan kebijakanNYA. Hubungan dengan Tuhan harus menjadi gaya hidup sehat remaja setiap hari.

Pembinaan agama rutin dilakukan kepada para remaja bukan sekedar melakukan kewajiban agama / Tuhan tapi menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Hubungan dengan Tuhan harus sama baiknya dengan hubungan dengan masyarakat. Para remaja tidak bisa mengatakan hubungan ke Tuhan sangat baik sementara hubungan ke masyarakat buruk. Kalau itu yang terjadi maka individu remaja tersebut menciptakan kebohongan baru.

Perhatikan artikel menarik lainnya disini.

Pembangunan Karakter dengan Masyarakat

Para remaja harus turun juga ke masyarakat yang berarti belajar ke lingkungan yang lebih besar luas. Tidak perlu melakoni peran yang berat, hitung – hitung belajar bergaul dengan orang dewasa dan mengasah keberanian dan berkomunikasi. Kontribusi orang tua sangat dibutuhkan sebagai pembimbing utama para remaja dan harus mencontohkan perilaku kehidupan karakter kepada putra putrinya yang berbasiskan gaya hidup sehat remaja.

Apabila ini sudah dilaksanakan, maka bola beralih ke tokoh masyarakat itu sendiri. Tokoh – tokoh masyarakat pun harus bersedia mengajarkan dan membimbing para remaja dengan berbagai bentuk nasihat sebagai generasi penerus bangsa. Harapan karakter yang dimiliki para remaja semakin lebih baik dan menyumbang energi dan sinergisitas positif. Awalnya para remaja ditempatkan di tempat pemula, tapi lambat laun kelak merangkak naik.

Ulasan ini bersifat kajian pemikiran, pengalaman, plus pengamatan terhadap lingkungan sekitar. Pelajaran sosial berkarakter tentang pembentukan budaya bangsa harus direkatkan ke dalam kehidupan para remaja supaya tampil sehat dan cerdas dengan kehidupannya. Hidup remaja bukan masalah positif atau negatif saja dalam pergaulan gaya hidup sehat remaja melainkan terpengaruh atau tidak terpengaruh terhadap dinamika pergaulan.

About Ibnu Khamill

Check Also

olahraga sehat pagi hari

7 Daftar Olahraga Sehat Pagi Hari Untuk Usia 50 Tahun ke Atas

7 Daftar Olahraga Sehat Pagi Hari Untuk Usia 50 Tahun ke Atas – Menimbang apa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *